Aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya ditopang oleh hasil tangkapan nelayan. Di balik kegiatan melaut, perempuan turut berperan dalam menjaga perputaran ekonomi keluarga melalui pengolahan hasil perikanan, pemasaran tangkapan, hingga pengembangan usaha berbasis potensi laut.
Peran tersebut bahkan memiliki kontribusi yang relatif setara dengan pekerjaan yang dilakukan laki-laki. Direktur Lembaga Pengembangan Sumber Daya Nelayan (LPSDN) Amin Abdullah mengatakan, perempuan pesisir memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan rumah tangga, utamanya melalui kegiatan pengolahan hasil laut.
“Kalau kita lihat di sini, hampir sama antara peran perempuan dan laki-laki dalam hal menggerakkan atau menghidupi rumah tangga di mana laki-laki sebagai nelayan juga buruh tani, perempuan sebagai pengolah hasil perikanan,” ujar Amin Abdullah kepada Katadata, Rabu (21/10).

Menurut Amin, kegiatan pengolahan hasil perikanan bernilai ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Perputaran uang dari aktivitas ini turut membantu memenuhi kebutuhan keluaga, termasuk membiayai pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi.
“Pengolahan hasil perikanan ini luar biasa ya peredaran uangnya. Jadi ini bisa membantu perekonomian rumah tangga hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi,”
Di Lombok, kegiatan pengolahan hasil laut umumnya dijalankan secara berkelompok. Kelompok-kelompok tersebut dibentuk berdasarkan jenis produk yang dihasilkan. Mulai dari terasi, kerupuk ikan, hingga cumi dan lainnya.
Pola ini menjadi salah satu jalan bagi perempuan pesisir untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas kegiatan ekonomi berbasis hasil laut.
Besarnya peran perempuan dalam perekonomian pesisir tak lepas dari dukungan berbagai pihak dalam meningkatkan keterampilan dan kapasitas mereka. Di Lombok Timur, upaya pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kerja sama sejumlah kelompok dan lembaga masyarakat.
Koordinator Nelayan Perempuan Masyarakat Lombok Timur Murnihati menuturkan, perempuan di lingkungan pesisir mendapatkan pendampingan dan pelatihan untuk mengolah sekaligus memasarkan hasil laut.
“Pertama kita tahu itu (pelatihan) dari LPSDM (Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra). Alhamdulillah LPSDM membina ibu2 yang ada di dusun ini, kemudian memberikan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu supaya bisa memasarkan hasil lautnya,” tutur Murnihati.

Penguatan kapasitas perempuan sendiri tak berkutat pada kerja-kerja domestik semata. Pelatihan dari Lembaga Juang Laut Lestari (JARI) misalnya, memberikan pembekalan kepada perempuan pesisir agar terlibat dalam aktivitas ekologi laut.
Perwakilan JARI, Isni Aini mengatakan, keterlibatan perempuan diperlukan lantaran memiliki posisi penting. Melalui pelatihan tersebut, perempuan diharapkan memiliki kemampuan untuk ikut mengawasi kondisi lingkungan laut di sekitarnya.
“Kami membekali perempuan di kawasan pesisir Lombok Timur untuk memiliki kapasitas monitoring ekologi, kami berharap perempuan punya andil karena peran perempuan cukup penting dalam hal ini,” tutur Isni Aini.
Selain pemantauan ekologi, JARI juga memberikan pembekalan kepada nelayan perempuan dalam hal pengelolaan keuangan masyarakat pesisir.
“Salah satu wadah yang dibangun adalah kelompok talangan yang diisi mayoritas perempuan. Bagaimana mengajak ibu-ibu nelayan untuk bisa menabung dan melakukan kampanye pengelolaan keuangan,” imbuhnya.
Isni menilai, pengelolaan kawasan laut yang berkelanjutan perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Upaya menjaga ekosistem laut perlu ditopang oleh kondisi ekonomi masyarakat yang memadai agar aktivitas perikanan dapat terus berlangsung.
Dengan demikian, pemberdayaan perempuan pesisir memiliki cakupan yang lebih luas dari peningkatan keterampilan mengolah hasil laut.
Keterlibatan mereka dalam kegiatan produksi, pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga pemantauan ekologi menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi masyarakat pesisir yang lebih kuat dan berkelanjutan.