Katadata Green
Banner

Trash Ranger Dukung Kompetisi Cerdas Cermat JSN 2026

Trash Ranger
Avatar
Oleh Try Surya 29 September 2026, 16.43

Program Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara (JSN) 2026 kembali digelar untuk mendorong pengenalan keanekaragaman hayati dan meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap satwa Indonesia. Program ini mendapat dukungan dari Trash Ranger sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi lingkungan kepada anak-anak.

Program tersebut mengusung pendidikan, lingkungan, dan generasi muda sebagai fokus utama. Melalui kompetisi, peserta diajak mengenal satwa sekaligus memahami keterkaitannya dengan ekosistem dan kehidupan manusia.

Penyelenggara menargetkan kompetisi Cerdas Cermat JSN 2026 melibatkan 36 sekolah dengan total 172 peserta. Registrasi dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober 2026, dengan sejumlah penyempurnaan teknis dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.

Format cerdas cermat dipilih untuk menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan keberlanjutan. Konsep keberlanjutan dalam program ini mencakup aspek lingkungan sekaligus sosial, termasuk bagaimana pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati dapat ditanamkan kepada generasi penerus.

Cerdas Cermat JSN juga telah menjadi bagian dari program pembelajaran keanekaragaman hayati berkelanjutan. Anak-anak didorong mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, sportivitas, serta pemahaman mengenai hubungan antara satwa, manusia, dan lingkungan.

Direktur Jagat Satwa Nusantara Rumpoko Hadi mengatakan terdapat dua pendekatan yang digunakan agar pembelajaran dapat berlangsung lebih nyata. Selain belajar di ruang kelas, peserta juga diajak merasakan kondisi lapangan secara langsung.

Menurut Rumpoko, pengalaman tersebut penting untuk memperkenalkan konsep ekologi, lingkungan, dan ekosistem secara lebih dekat. Pengamatan langsung terhadap objek membuat pengetahuan yang diperoleh anak tidak berhenti pada hafalan, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang lebih kontekstual.

"Kami ingin program dan kompetisi ini mengajarkan kreativitas, sportif, sekaligus mendekatkan mereka dengan keanekaragaman hayati dan mengenalkan satwa kepada anak-anak muda," ujar Rumpoko.

Dengan pendekatan tersebut, program tidak berfokus pada kemampuan peserta menjawab pertanyaan dengan cepat. Proses pembelajaran juga diarahkan untuk membangun pemahaman serta kepedulian terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati.

Kolaborasi Jadi Bagian dari Edukasi Keanekaragaman Hayati

Direktur Utama PT Bhumi Visatanda TMII Ratri Paramitha mengatakan kompetisi Cerdas Cermat JSN dibuat untuk menjaga pengetahuan mengenai satwa agar tetap relevan bagi generasi muda di tengah perubahan lingkungan dan perkembangan zaman.

Menurut dia, anak-anak perlu mendapat kesempatan mengenal satwa secara langsung sekaligus memahami keanekaragaman hayati dan alasan konservasi diperlukan.

Ratri mengatakan visi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pendidikan, TMII, media, hingga komunitas lingkungan. Kolaborasi diperlukan agar edukasi mengenai satwa dapat berkembang menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan.

"Kompetisi ini bukan hanya soal visi dan misi, tetapi juga kolaborasi yang berkelanjutan untuk mendukung anak-anak muda memperoleh pengetahuan tentang satwa dan keanekaragaman hayati," jelasnya.

Keterlibatan berbagai pihak juga sejalan dengan roadmap Jagat Satwa Nusantara yang membuka ruang kolaborasi lebih luas. Komunitas menjadi salah satu unsur yang dapat mendukung inklusivitas, memperkaya konten, serta mengembangkan kegiatan pembelajaran terkait konservasi.

Jagat Satwa Nusantara sebagai Laboratorium Hidup

Prof. Maila melihat Jagat Satwa Nusantara memiliki potensi sebagai ruang belajar yang dapat memperkuat pembelajaran berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.

Berbagai ruang edukasi satwa, termasuk taman burung dan museum, dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran yang hidup. Dengan demikian, proses belajar dapat berlangsung melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan di TMII.

Misalnya, perbedaan bentuk paruh burung dapat menjadi awal pembelajaran mengenai cara burung mencari makanan. Dari pengamatan tersebut, siswa dapat mengembangkan pertanyaan mengenai habitat, ekosistem, hingga alasan setiap satwa memiliki karakteristik yang berbeda.

Pendekatan tersebut mendorong anak memahami alasan di balik suatu fenomena, bukan sekadar mengetahui fakta. Pengalaman langsung juga dapat membuat pembelajaran mengenai satwa dan lingkungan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Proses Belajar Jadi Fokus Kompetisi

Semangat yang sama datang dari lingkungan sekolah. Kepala Sekolah SD Global Islamic Labschool Rizkia mengatakan perjalanan peserta menuju kompetisi dimulai dari proses penyisihan di sekolah.

Bagi siswa, kesempatan mengikuti perlombaan dapat menjadi motivasi untuk belajar sekaligus membangun keberanian mencoba. Kompetisi juga ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan semata-mata ajang perebutan penghargaan.

"Awalnya kompetisi bukan untuk menang, tetapi untuk mencoba. Harapannya mereka membawa pulang ilmu, pengalaman, dan pengetahuan, bukan hanya piala," ungkap Rizkia.

Kesadaran terhadap lingkungan dapat dibangun melalui proses yang bertahap. Anak-anak perlu mengenal satwa dan lingkungannya, kemudian memahami keterkaitannya, menumbuhkan minat, hingga muncul keinginan untuk ikut berkontribusi.

Proses tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan. Aktivitas yang awalnya dilakukan karena tuntutan pembelajaran dapat berkembang menjadi disiplin, kemudian menjadi kebiasaan dan mendorong tumbuhnya kepedulian secara mandiri.

Melalui Cerdas Cermat JSN 2026, pembelajaran konservasi ditempatkan sebagai pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan peserta. Anak-anak diajak mengenali satwa sekaligus memahami hubungan satwa dengan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.

Pengenalan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian terhadap keanekaragaman hayati sejak usia sekolah. Dengan pengalaman mengamati dan bertanya secara langsung, anak-anak diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai peran satwa dan lingkungan dalam kehidupan.

Editor : Try Surya
;

Katadata Green merupakan platform yang mengintegrasikan berita, riset, data, forum diskusi, dan komunitas untuk menginformasikan, bertukar gagasan, hingga kolaborasi untuk pembangunan hijau dan berkelanjutan di Indonesia.