Trash Ranger Indonesia bersama Trakindo menggelar kegiatan Misi Hijau di Amphitheater Jaletreng, BSD, Sabtu (27/6). Program yang terbuka bagi masyarakat ini menggabungkan edukasi, aksi lingkungan, dan kegiatan kesehatan untuk mendorong partisipasi publik dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Berbeda dari seminar lingkungan pada umumnya, kegiatan ini mengajak peserta terlibat langsung melalui berbagai aktivitas interaktif. Mulai dari senam bersama, Community Talkshow, pemeriksaan kesehatan gratis bersama Eka Hospital, Green Warrior Challenge, hingga praktik pembuatan eco-enzyme bersama Trash Ranger Indonesia.
Konsep tersebut dirancang untuk menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak terlepas dari kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Melalui pengalaman langsung, peserta diajak memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Salah satu agenda utama dalam Misi Hijau adalah Community Talkshow yang menghadirkan Putri Melta Sari, Co-Founder Trash Ranger Indonesia sekaligus Sustainability Speaker, Environmental Content Creator, dan aktivis lingkungan.
Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai isu keberlanjutan melalui Green Talks, edukasi lingkungan, berbagi pengalaman, diskusi interaktif, permainan edukatif, hingga praktik pembuatan eco-enzyme yang didampingi komunitas Trash Ranger Indonesia.
Kehadiran praktisi yang aktif di lapangan memberikan perspektif yang lebih aplikatif. Peserta tidak hanya mempelajari konsep keberlanjutan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi dampak lingkungan.
Praktik pembuatan eco-enzyme menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempraktikkan secara langsung proses pembuatan larutan hasil fermentasi limbah organik menggunakan bahan sederhana berupa sisa sampah organik, gula, dan air.
Melalui praktik tersebut, peserta diajak memahami bahwa limbah dapur masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan benar. Eco-enzyme yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk membantu membersihkan berbagai permukaan, sekaligus menjadi salah satu upaya mengurangi volume sampah organik rumah tangga.
Pendekatan berbasis praktik ini juga memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan dari rumah tanpa memerlukan teknologi yang rumit, sehingga lebih mudah diterapkan oleh masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Puluhan relawan, masyarakat, hingga anak-anak mengikuti rangkaian acara dengan semangat, menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dikemas menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Pada sesi Green Warrior Challenge, peserta diajak mengumpulkan sampah di area taman selama 15 menit sebelum hasilnya ditimbang untuk menentukan pemenang. Aktivitas sederhana tersebut menjadi media edukasi yang mendorong peserta untuk terlibat langsung dalam menjaga kebersihan ruang publik.
Kegiatan ini juga mengingatkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia masih menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun dan sebagian di antaranya belum terkelola secara optimal.
Karena itu, edukasi yang dibarengi dengan pengalaman langsung dinilai menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk membangun perubahan perilaku. Masyarakat tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mempraktikkan cara memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme, serta menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama.
Melalui Misi Hijau, Trakindo bersama Trash Ranger Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi antara dunia usaha, komunitas, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat budaya peduli lingkungan.
Program ini sekaligus menegaskan bahwa perubahan besar tidak selalu berawal dari kebijakan berskala besar, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti memilah sampah, mengolah limbah organik, dan menjaga kebersihan ruang publik. Ketika aksi nyata menjadi bagian dari keseharian, upaya mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan akan semakin mudah dicapai.