La Nina adalah fenomena iklim global yang terjadi saat suhu permukaan laut di tengah dan timur Samudra Pasifik lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini merupakan kebalikan dari El Nino dan bagian dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
Diketahui bahwa La Nina muncul karena adanya hubungan antara kondisi atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik. Fenomena ini dipicu oleh semakin kuatnya angin pasat dari timur, yang menggeser air hangat ke barat dan membuat perairan di sekitar Indonesia menjadi lebih panas.
Maka dari itu, kami akan membahas lebih lanjut tentang apa itu La Nina, yang merupakan salah satu bagian dari siklus iklim yang terjadi di Indonesia. Tidak hanya terhadap iklim dan cuaca, La Nina mau pun El Nino juga bisa berdampak untuk berbagai aspek kehidupan lainnya.
Fenomena La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut di sepanjang pesisir barat Amerika Selatan menjadi lebih rendah dari biasanya. Kondisi ini merupakan kebalikan dari El Nino, yang justru ditandai dengan pemanasan suhu laut di kawasan tropis Samudra Pasifik.
Saat La Nina berlangsung, angin pasat bertiup lebih kencang dari normal, mendorong pergerakan air hangat menuju kawasan Asia. Sementara itu, di perairan dekat Amerika, terjadi peningkatan proses naiknya air laut dingin dari kedalaman ke permukaan, yang membawa banyak nutrisi bagi ekosistem laut.
Dampak dari La Nina cukup signifikan terhadap pola cuaca global. Arus udara di atmosfer cenderung bergeser ke utara, suhu musim dingin di wilayah selatan cenderung lebih hangat, sementara di bagian utara lebih dingin dari biasanya. La Nina juga berpotensi memperburuk intensitas badai selama musim tertentu.
Melansir Ocean Service, saat La Nina terjadi, perairan di sepanjang pantai Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya dan kaya akan nutrisi. Kondisi ini menciptakan habitat yang mendukung kehidupan laut, menarik lebih banyak spesies perairan dingin seperti cumi-cumi dan salmon ke wilayah seperti pesisir California, Amerika Serikat.
Sementara di Indonesia, La Nina memiliki dampak yang relatif signifikan untuk berbagai sektor kehidupan, terutama terkait cuaca, bencana alam, pertanian, perikanan, ekonomi, dan infrastruktur. Fenomena ini memicu hujan lebih sering dan lebih lebat, suhu udara menjadi lebih rendah, serta tingkat kelembapan meningkat drastis, yang menyebabkan terbentuknya lebih banyak awan hujan.
Akibatnya, risiko bencana seperti banjir dan longsor semakin tinggi, terutama di daerah rawan. Tak hanya itu, La Nina juga berdampak pada kondisi laut, menyebabkan gelombang tinggi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya badai tropis di perairan Indonesia.
Indonesia telah beberapa kali mengalami La Nina dengan dampak yang cukup signifikan, seperti pada periode 2010-2011, 2016-2017, dan 2020-2022. Selama masa tersebut, curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan banjir besar di berbagai daerah. Untuk mengurangi dampak buruknya, diperlukan langkah-langkah pencegahan dan strategi penyesuaian yang tepat.
Secara umum, La Nina memengaruhi Indonesia dalam berbagai cara. Meskipun peningkatan curah hujan bisa menguntungkan sektor tertentu, seperti pertanian, namun di sisi lain juga dapat memicu bencana alam dan mengganggu perekonomian.
Secara garis besar, La Nina muncul akibat hubungan dinamis antara lautan dan atmosfer di Samudra Pasifik, yang membuat suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur menjadi lebih dingin dari normal. Penyebab utamanya adalah angin pasat dari timur yang bertiup lebih kuat, mendorong air hangat ke arah barat.
Hembusan angin ini menggeser air hangat ke barat, menuju kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga suhu laut di wilayah tersebut meningkat, sementara perairan di bagian timur Pasifik justru mendingin. Akibatnya, terjadi fenomena upwelling, di mana air dingin dari dasar laut naik ke permukaan di sekitar pesisir Amerika Selatan, semakin memperkuat penurunan suhu di kawasan tersebut.
Perbedaan tekanan udara di wilayah barat dan timur Samudra Pasifik juga berperan besar dalam munculnya La Nina. Saat fenomena ini terjadi, tekanan atmosfer di sekitar Indonesia dan Australia lebih rendah dibandingkan di dekat Amerika Selatan, sehingga memperkuat pola pergerakan udara tersebut.
Itulah penjelasan tentang apa itu La Nina yang merupakan kebalikan El Nino. Fakta menariknya, kata La Nina diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti Anak Gadis.