Katadata Green
Banner

Tim Ekspedisi Hutan Merdeka Soroti Ancaman bagi Orangutan Tapanuli

Satya Bumi
Avatar
Oleh Try Surya 19 Agustus 2026, 19.14

Spanduk raksasa bertuliskan “No Second Home, Restore their Forest” terbentang di Jembatan Trikora, Batang Toru, Sumatera Utara, Rabu (19/8/2026). Aksi tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Orangutan Internasional sekaligus menandai berakhirnya perjalanan Tim Ekspedisi Hutan Merdeka.

Pembentangan spanduk diikuti aksi damai yang menyerukan perlindungan hutan dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), salah satu spesies orangutan yang hanya ditemukan di wilayah Sumatera Utara.

Ekspedisi Hutan Merdeka merupakan perjalanan bersepeda sejauh lebih dari 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batang Toru yang diinisiasi Satya Bumi. Perjalanan ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian publik terhadap perlindungan Ekosistem Batang Toru dan Orangutan Tapanuli melalui pendekatan yang lebih populer.

Selain mengangkat isu konservasi, ekspedisi tersebut juga membawa pesan mengenai pemulihan lingkungan hidup di Aceh dan Sumatera, terutama setelah sejumlah wilayah terdampak bencana banjir dan longsor.

“Hari ini kita memperingati Hari Orangutan Internasional, kenapa ini penting bagi kita orang Indonesia, karena orangutan hanya ada di Indonesia. Ia merupakan spesies yang sangat mirip dengan manusia. Keberadaan orangutan adalah indikator apakah hutan tempat dia tinggal masih baik atau tidak. Ketika orangutan punah, maka hutan juga terancam. Apa yang kita suarakan di sini bukan hanya perlindungan orangutan, tapi juga perlindungan terhadap hutan dan seluruh masyarakat di sekitarnya,” ujar Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Muttaqien dalam keterangannya, Rabu (19/8).

Banjir Batang Toru dan Kematian Orangutan

Ancaman terhadap Ekosistem Batang Toru menjadi perhatian setelah wilayah tersebut menjadi salah satu episentrum bencana banjir dan tanah longsor pada November 2025.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebanyak 34 orang meninggal dunia dan ribuan warga terdampak banjir bandang di Batang Toru.

Dampak bencana juga dirasakan populasi Orangutan Tapanuli. Laporan yang dikutip Satya Bumi memperkirakan sebanyak 58 individu Orangutan Tapanuli mati akibat bencana tersebut. Jumlah itu setara sekitar 7% dari populasi satwa yang saat ini diperkirakan kurang dari 800 individu.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap spesies yang sejak awal memiliki wilayah habitat terbatas. Orangutan Tapanuli diketahui hanya hidup di Ekosistem Batang Toru.

Fragmentasi Habitat Jadi Ancaman

Selain bencana, aktivitas pembangunan dan industri juga menjadi sorotan karena dinilai berkontribusi terhadap penyusutan habitat Orangutan Tapanuli.

Satya Bumi mencatat Ekosistem Batang Toru terus menghadapi tekanan dari pembangunan dan kegiatan industri, di antaranya Tambang Emas Martabe dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru.

Berdasarkan catatan organisasi tersebut, hingga 2024 ekspansi lahan yang dilakukan PLTA mencapai 535,25 hektare. Sementara itu, pada 2025 total ekspansi akibat aktivitas pertambangan emas tercatat 603,21 hektare.

Sebagian area tersebut berada di Blok Barat Ekosistem Batang Toru yang menjadi habitat Orangutan Tapanuli.

Perubahan tutupan hutan dan terfragmentasinya habitat membuat ruang jelajah orangutan semakin terbatas. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko perkawinan antarindividu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat sehingga berpotensi memengaruhi keberlangsungan populasi.

“Orangutan Tapanuli rentan atas kepunahan, mungkin 10 - 15 tahun lagi mereka akan punah, untuk itu keanekaragaman hayati harus dilindungi. Hari Orangutan Internasional adalah momentum besar bagi kita dan pemangku kebijakan, khususnya Kementerian Kehutanan untuk menaruh kepedulian lebih terhadap perlindungan Orangutan Tapanuli,” ujar Juru Kampanye Walhi Sumatera Utara, Maulana Shiddiq.

Satya Bumi juga menyebut hasil pemantauan satelit setelah bencana banjir bandang 2025 menunjukkan adanya sejumlah titik longsor baru yang berada di sekitar wilayah konsesi berbagai industri di Ekosistem Batang Toru.

Menurut organisasi tersebut, temuan itu perlu menjadi pengingat mengenai potensi bencana ekologis apabila tekanan terhadap hutan dan deforestasi terus berlangsung.

Persoalan lingkungan di Batang Toru juga berkaitan dengan kondisi masyarakat yang terdampak bencana. Satya Bumi menyebut masih terdapat warga yang tinggal di hunian sementara dan menghadapi kekhawatiran ketika hujan turun.

Organisasi tersebut menilai perlindungan ekosistem perlu berjalan beriringan dengan upaya pemulihan wilayah terdampak bencana serta pemenuhan hak masyarakat.

Dorong Pemerintah Hentikan Izin Baru

Dalam aksi di Jembatan Trikora, Pendiri Orangutan Information Center Panut Hadisiswoyo juga menyerukan perlindungan terhadap hutan dan Orangutan Tapanuli.

“Jaga Hutan, Jaga Orangutan! Lindungi hutan di Tapanuli, lindungi orangutan Tapanuli , lindungi masa depan Indonesia, pulihkan hutan Tapanuli,” ujar Pendiri Orangutan Information Center, Panut Hadisiswoyo dalam orasi di Jembatan Trikora.

Melalui aksi tersebut, Satya Bumi bersama koalisi masyarakat sipil dan Tim Ekspedisi Hutan Merdeka mendorong pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk melindungi Ekosistem Batang Toru.

Mereka meminta Presiden Republik Indonesia, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menghentikan pemberian izin baru yang berpotensi meningkatkan deforestasi dan kerusakan Ekosistem Batang Toru.

Selain itu, pemerintah diminta menjaga sumber daya alam yang tersisa, termasuk populasi Orangutan Tapanuli yang jumlahnya disebut kurang dari 800 individu.

Kelompok masyarakat sipil tersebut juga meminta pemerintah memperkuat pemulihan Batang Toru, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh serta menangani secara serius potensi bencana ekologis di wilayah tersebut.

Bagi Tim Ekspedisi Hutan Merdeka, perjalanan dari Jakarta ke Batang Toru tidak berhenti pada aksi simbolis memperingati Hari Orangutan Internasional. Pesan yang dibawa adalah bahwa keberlangsungan Orangutan Tapanuli tidak dapat dipisahkan dari kondisi hutan sebagai habitatnya dan keselamatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Editor : Try Surya
;

Katadata Green merupakan platform yang mengintegrasikan berita, riset, data, forum diskusi, dan komunitas untuk menginformasikan, bertukar gagasan, hingga kolaborasi untuk pembangunan hijau dan berkelanjutan di Indonesia.