Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menegaskan perlunya percepatan implementasi agenda transisi menuju emisi nol bersih (net-zero) melalui penyelenggaraan Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026. Mengusung tema "It's Time to Deliver!", forum ini menekankan bahwa berbagai komitmen iklim kini harus diwujudkan dalam aksi nyata yang terukur.
INZS 2026 yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (1/8), diikuti hampir 10.000 peserta. Acara tersebut menghadirkan lebih dari 130 mitra dan 60 pembicara dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil.
Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan perubahan iklim merupakan tantangan terbesar yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan. Namun, isu tersebut kerap terpinggirkan di tengah berbagai dinamika global.
“Perubahan iklim tidak pernah berhenti berubah. Ia adalah pondasi yang menentukan kesehatan, politik, perdamaian, keamanan, ekonomi, industri, migrasi, kesejahteraan individu dan sosial, infrastruktur, pangan, energi, air, lapangan kerja—segala hal. Ia adalah kekuatan paling penting yang menentukan nasib umat manusia. Perubahan iklim berada di atas segalanya. Ia harus menjadi yang nomor satu,” jelas Dino.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi tatanan global, serta kekhawatiran terhadap keamanan energi tidak boleh menggeser perhatian terhadap agenda iklim. Justru dalam situasi tersebut, negara-negara perlu mempercepat implementasi transisi menuju ekonomi rendah karbon.
“Climate change is about everything else. It should be goal number one. If we don’t get climate right, we get everything else wrong (Perubahan iklim adalah tentang segalanya. Itu seharusnya menjadi tujuan nomor satu. Jika kita tidak menyelesaikan masalah iklim, maka kita akan salah dalam segala hal),” sambung Dino.
Ia juga mengingatkan bahwa peluang untuk membatasi dampak krisis iklim semakin sempit.
“Dunia dengan (kenaikan) suhu 3 derajat Celcius akan menyakiti kita semua. Kita semua akan menderita, dan itu tidak bisa diputar balik. Kita bisa bertindak sekarang—ini adalah celah kecil yang tersisa hingga 2030,” tegasnya.
Tema "It's Time to Deliver!" dipilih untuk menegaskan bahwa agenda net-zero tidak lagi dapat diposisikan sebagai target jangka panjang. Di tengah tekanan ekonomi global, transisi energi dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, serta keamanan nasional.
FPCI menilai kesenjangan antara komitmen dan implementasi masih menjadi tantangan utama, terutama dalam aspek pendanaan, pengembangan teknologi, serta penyusunan jalur transisi yang adil. Melalui INZS 2026, organisasi tersebut berharap tercipta kolaborasi yang lebih kuat guna mempercepat implementasi solusi iklim secara inklusif.
Sementara itu, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menilai ketahanan air menjadi fondasi penting dalam pencapaian target net-zero.
“Emisi nol bersih (net-zero) tidak akan tercapai tanpa ketahanan air. Air berperan dalam mitigasi dan adaptasi, sedangkan ekosistem air adalah fondasi ketahanan iklim,” ungkap Retno.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh. Jumhur Hidayat mengatakan transisi menuju net-zero seharusnya dipandang sebagai strategi pembangunan nasional, bukan sekadar kewajiban lingkungan.
Di tengah dunia yang tidak pasti, imbuhnya, agenda iklim dan transisi hijau justru menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keamanan bangsa. Transisi menuju net-zero bukan beban tambahan, melainkan cara menjaga masa depan.
"Kami merumuskan pendekatan kebijakan yang bertumpu pada tiga pilar yang saling terhubung, yaitu mitigasi, adaptasi, dan prosperity (kesejahteraan). Tiga kata ini bukan sekadar slogan; tiga-tiganya harus jalan bersama,” papar Jumhur.
Ia menambahkan tema yang diangkat dalam INZS tahun ini harus diterjemahkan menjadi langkah konkret.
“Tema “It’s Time to Deliver” menuntut kita menjawab satu pertanyaan sederhana: apa arti “delivery” bagi Indonesia?” jelas Jumhur.
Menurutnya, terdapat sejumlah prioritas yang perlu dijalankan secara bersama.
“Setidaknya ada beberapa prioritas yang perlu kita dorong bersama. Pertama, memperkuat integritas tata kelola lingkungan. Kedua, mempercepat transformasi rendah karbon tanpa melampaui batas ekologi. Ketiga, menjadikan adaptasi dan ketahanan sebagai prioritas pembangunan. Keempat, memastikan transisi bekerja untuk rakyat. Kelima, membangun kemitraan implementasi yang nyata. Pada akhirnya, pesan dari “It’s Time to Deliver” sangat sederhana tetapi tegas,” tutur Jumhur.
Ia pun menegaskan, momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk menunjukkan hasil nyata melalui pernyataan berikut:
Rangkaian INZS 2026 ditutup dengan penampilan musisi Teddy Adhitya yang mengusung kampanye "No Music on A Dead Planet", sebagai ajakan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu perubahan iklim melalui musik. Acara ini terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya. Melalui FPCI Climate Unit, FPCI menyatakan akan terus mengawal perkembangan isu iklim di Indonesia dan mendorong lahirnya aksi yang lebih konkret untuk mendukung pencapaian target net-zero.