Katadata Green
Banner

"Tales of Belonging" Ajak Publik Merawat Hutan Lewat Kekuatan Cerita

Dok. Yayasan HAkA
Avatar
Oleh Septiani Teberlina 9 Juli 2026, 15.47

Jakarta – Apa yang membuat manusia merasa menjadi bagian dari sebuah tempat? Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah krisis iklim, perubahan lanskap, dan semakin renggangnya hubungan manusia dengan alam. Hutan kerap dibicarakan sebagai kawasan konservasi, angka tutupan lahan, atau ruang ekologis. Namun bagi banyak masyarakat, hutan juga merupakan ruang hidup, sumber ingatan, pengetahuan, budaya, dan identitas. 

Berangkat dari gagasan tersebut, REKAM Nusantara Foundation melalui INFIS, bekerja sama dengan Yayasan HAkA, menghadirkan Tales of Belonging, sebuah inisiatif storytelling yang mengangkat hubungan antara manusia, hutan, satwa liar, pengetahuan lokal, dan rasa memiliki terhadap Kawasan Ekosistem Leuser. 

Tales of Belonging diluncurkan pada 4–5 Juli 2026 di Museum MACAN, Jakarta, melalui rangkaian pemutaran mini seri dokumenter, pameran foto dan cerita, diskusi publik, serta ruang partisipasi publik. Program ini mengajak audiens untuk melihat isu lingkungan bukan hanya melalui krisis dan kerusakan, tetapi juga melalui pengalaman hidup, memori, kehilangan, harapan, dan hubungan sehari-hari antara manusia dan lanskap. 

Kawasan Ekosistem Leuser merupakan salah satu lanskap hutan hujan tropis terpenting di Indonesia. Membentang di Aceh dan Sumatera Utara, Leuser menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, sekaligus menjadi satu-satunya tempat di bumi di mana badak Sumatra, harimau Sumatra, orangutan Sumatra, dan gajah Sumatra masih hidup berdampingan dalam satu ekosistem liar yang utuh. 

Leuser juga menopang kehidupan jutaan masyarakat melalui jasa lingkungan seperti air bersih, perlindungan dari bencana hidrometeorologi, penyimpanan karbon, serta keberlanjutan ruang hidup masyarakat di sekitarnya. 

Namun, di balik nilai ekologisnya yang besar, Leuser tidak selalu dipahami sebagai lanskap yang dekat dengan kehidupan publik. Di banyak ruang percakapan, konservasi masih sering dianggap sebagai isu yang jauh, teknis, atau milik para ahli. Tales of Belonging mencoba menggeser cara pandang tersebut dengan menghadirkan cerita masyarakat, pengetahuan lokal, mitos, ingatan, dan tokoh-tokoh yang hidup bersama lanskap ini. 

Melalui cerita-cerita tersebut, Tales of Belonging ingin menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan hutan dan satwa liar, tetapi juga tentang merawat hubungan manusia dengan tempat yang membentuk kehidupannya. Cerita tentang masyarakat, penjaga hutan, lanskap, satwa, dan kearifan lokal menjadi cara untuk melihat bahwa rasa memiliki dapat tumbuh dari kedekatan, pengalaman, dan ingatan yang diwariskan. 

Selama dua hari penyelenggaraan, program ini menghadirkan beberapa rangkaian utama, antara lain Photo & Story Installation, main screening mini seri dokumenter Tales of Belonging, post-screening conversation, serta Action & Contribution Corner. Melalui instalasi foto dan cerita, audiens diajak memasuki fragmen pengalaman lapangan, potret karakter, stills dari film, serta dokumentasi di balik proses kreatif proyek ini. 

Pada hari pertama, diskusi publik bertajuk “What Makes Us Belong?” membahas bagaimana keterhubungan manusia dengan alam membentuk rasa memiliki, identitas, budaya, dan cara hidup. Sesi ini menghadirkan perspektif dari kerja lapangan, penulisan cerita, serta ingatan kolektif melalui praktik budaya dan hikayat. 

Pada hari kedua, sesi “Human-Centered Environmental Visual Storytelling” mengeksplorasi bagaimana film, fotografi, dan storytelling dokumenter dapat membangun empati serta memperluas cara publik memahami isu lingkungan. Sesi ini membahas bagaimana cerita ditemukan di lapangan, bagaimana pengalaman manusia diterjemahkan melalui gambar, dan bagaimana visual storytelling dapat membuka percakapan yang lebih dekat dengan audiens. 

Selain menonton dan berdiskusi, audiens juga diajak untuk berpartisipasi melalui Action & Contribution Corner, sebuah ruang untuk mengenal bentuk dukungan terhadap kerja konservasi dan restorasi di Kawasan Ekosistem Leuser. Ruang ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengalaman menonton dan tindakan nyata yang dapat dilakukan setelah acara. 

“Melalui Tales of Belonging, kami ingin mengajak publik melihat Leuser bukan hanya sebagai lanskap ekologis, tetapi juga sebagai ruang hidup yang penuh cerita, ingatan, dan hubungan. Berbicara tentang konservasi tidak selalu berarti kita harus menjadi konservasionis. Ia bisa dimulai dari mendengar, memahami, dan merasa terhubung dengan tempat yang menopang kehidupan kita. Menjaga Kawasan Ekosistem Leuser adalah tanggung jawab kita bersama” ujar Dini Aristya, sutradara Tales of Belonging

Peluncuran Tales of Belonging di Museum MACAN menjadi ruang pertemuan antara publik urban, komunitas kreatif, filmmaker, seniman, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, dan masyarakat luas. Program ini diharapkan dapat membuka percakapan lintas disiplin tentang hubungan manusia, hutan, budaya, identitas, dan masa depan bersama. 

Tales of Belonging percaya bahwa merawat hutan tidak hanya dimulai dari pengetahuan, tetapi juga dari rasa memiliki. Dari cerita yang menghubungkan manusia dengan tempat. Dari ingatan yang diwariskan. Dari pilihan untuk tidak berpaling.

Editor : Septiani Teberlina
;

Katadata Green merupakan platform yang mengintegrasikan berita, riset, data, forum diskusi, dan komunitas untuk menginformasikan, bertukar gagasan, hingga kolaborasi untuk pembangunan hijau dan berkelanjutan di Indonesia.