Komunitas lingkungan Trash Ranger Indonesia menggelar kegiatan Urban Eco Journey di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ketiga pada Minggu (5/7/2026). Kegiatan ini memadukan aksi pungut sampah dengan edukasi interaktif mengenai pengelolaan limbah, mulai dari pembuatan junk journal hingga praktik eco enzyme.
Melalui kegiatan tersebut, Trash Ranger Indonesia ingin mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan perkotaan. Selain melakukan aksi bersih-bersih, para peserta juga mengedukasi masyarakat yang sedang berkunjung ke taman mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Urban Eco Journey melibatkan sejumlah komunitas dan organisasi lingkungan, di antaranya World Cleanup Day Indonesia, Teens Go Green Indonesia, Generasi Energi Bersih, Komunitas Salami, Palm is not my ID, Yayasan Upakara Bioenzyme Nusantara, dan Pijar Muda.
Kegiatan diawali dengan aksi clean up selama satu jam di seluruh area Tebet Eco Park bersama World Cleanup Day Indonesia. Peserta dibagi ke dalam 10 kelompok yang tidak hanya bertugas memungut sampah, tetapi juga mengajak pengunjung memahami jenis-jenis sampah melalui pendekatan persuasif.
Aksi tersebut turut menarik perhatian pengunjung. Seorang anak ikut membantu memungut sampah dan mengajak tiga temannya bergabung. Sejumlah pengunjung dewasa juga ikut terlibat dalam kegiatan bersih-bersih.
Selama satu jam pelaksanaan, peserta berhasil mengumpulkan 27 kilogram sampah yang terdiri atas 7 kilogram sampah organik, 7 kilogram sampah anorganik, dan 13 kilogram sampah residu.
Dominasi sampah residu menunjukkan masih tingginya penggunaan material yang sulit didaur ulang di kawasan perkotaan, sehingga menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah.
Sampah plastik hasil aksi bersih-bersih tidak langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Bersama Teens Go Green Indonesia, limbah tersebut dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan junk journal, sebuah buku kreatif yang berfungsi sebagai arsip perjalanan ramah lingkungan.
Workshop dipandu oleh Elma dan Saidah. Peserta dibagi ke dalam 10 kelompok dan diberi waktu 30 menit untuk membuat junk journal menggunakan sampah plastik, kertas bekas, majalah, daun kering, koran, hingga stiker bekas.
"Junk Journal berfungsi sebagai arsip personal bagi teman-teman ramah lingkungan untuk mencatat perjalanan hijau mereka. Desain dan visualisasinya disesuaikan dengan kreativitas masing-masing," jelas Elma.
Setelah proses pembuatan selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya sekaligus menjelaskan konsep yang diangkat dalam desain masing-masing.
Rangkaian kegiatan juga diisi sesi interaktif bersama Komunitas Salami. Dalam sesi ini, peserta diajak berdiskusi mengenai kebiasaan sederhana yang dilakukan sehari-hari untuk menjaga lingkungan.
Fasilitator kemudian mengajak peserta mengikuti permainan bertema lingkungan untuk menguji konsentrasi sekaligus mempererat interaksi antarpeserta. Diskusi juga membahas tanaman yang menjadi favorit peserta beserta alasan pemilihannya sebagai bentuk refleksi terhadap kedekatan dengan alam.
Puncak kegiatan diisi dengan praktik pembuatan eco enzyme bersama Yayasan Upakara Bioenzyme Nusantara yang dipandu oleh Bapak Sugeng. Peserta memanfaatkan sampah organik dapur seperti kulit buah dan sayuran untuk diolah menjadi cairan hasil fermentasi yang memiliki berbagai fungsi.
Dalam sesi tersebut, Sugeng menjelaskan bahwa pembuatan eco enzyme menggunakan perbandingan bahan 1:3:10, yakni satu bagian gula atau molase, tiga bagian bahan organik, dan sepuluh bagian air.
"Gula pasir memiliki kandungan sukrosa murni hingga 100 persen, sedangkan molase hanya mengandung sekitar 50 persen sukrosa sehingga takarannya harus separuh lebih banyak. Gula ini memegang peran krusial sebagai sumber nutrisi utama bagi bakteri selama proses fermentasi berlangsung," ucap Sugeng.
Ia juga menjelaskan bahwa bahan organik idealnya berasal dari sedikitnya lima jenis kulit buah untuk menghasilkan kandungan enzim, antioksidan, hormon pertumbuhan tanaman, dan senyawa fitokimia yang lebih beragam. Sementara itu, kulit salak dan kulit durian tidak dianjurkan digunakan karena teksturnya tidak mendukung proses fermentasi.
Selain bahan baku, kualitas air juga menjadi perhatian. Menurut Bapak Sugeng, seluruh jenis air dapat digunakan kecuali air PAM yang masih mengandung klorin. Air tersebut perlu didiamkan selama 24 jam dalam wadah terbuka agar kandungan klorinnya menguap sebelum digunakan.
Proses pembuatannya dimulai dengan mencampurkan air dan gula, kemudian memasukkan bahan organik ke dalam botol. Setelah botol ditutup dan dikocok hingga tercampur rata, tutup botol perlu dibuka sedikit untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.
Melalui Urban Eco Journey, Trash Ranger Indonesia berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga membawa pulang keterampilan praktis yang dapat diterapkan di rumah sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan perkotaan.