Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam mempercepat implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam transisi menuju ekonomi hijau. Peran tersebut tidak hanya hadir melalui inovasi dan kewirausahaan, tetapi juga lewat gerakan komunitas yang semakin dekat dengan isu keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan.
Aspek tersebut menjadi pembahasan dalam Green Campus Connect sebagai rangkaian dari Road to Permata INSPIRE, bertajuk “ESG for Tomorrow Leaders”, yang diselenggarakan oleh Permata Bank bersama Katadata Green di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa UMN yang secara aktif mendiskusikan peran generasi muda dalam kepemimpinan berbasis ESG. Acara ini menghadirkan perspektif dari sektor industri, akademisi, hingga praktisi keberlanjutan.
Chief of Corporate Affairs & Sustainability Permata Bank, Katharine Grace, mengatakan “ESG kini bukan lagi sekadar isu tambahan dalam dunia usaha, melainkan telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis dan pengelolaan risiko perusahaan. Kami di sektor perbankan memiliki peran strategis dalam mempercepat transisi hijau melalui pembiayaan berkelanjutan. Seluruh pelaku usaha kini mulai dituntut untuk memperhitungkan risiko iklim dalam model bisnis dan pengambilan keputusan.”
Pandangan serupa disampaikan Founder & Executive Director Life Cycle Indonesia, Jessica Hanafi. Ia menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan perubahan melalui pendekatan berbasis data dan dampak yang terukur.
Jessica menganggap implementasi sustainability perlu dimulai dari kemampuan memahami kondisi saat ini, menentukan target, mengelola proses, hingga mengomunikasikan dampaknya secara transparan.
“Kalau mau melakukan perubahan, kita harus tahu posisi kita sekarang di mana, targetnya apa, lalu bagaimana mengelola dan mengomunikasikan prosesnya. Sustainability bukan tujuan jangka pendek, melainkan sebuah perjalanan,” kata Jessica.
Tidak hanya itu, tambah Jessica, anak muda saat ini memiliki keuntungan karena akses terhadap informasi dan pengetahuan semakin terbuka. Karena itu, inovasi yang dibangun juga perlu mampu menunjukkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi secara nyata.
“Jangan sampai kita mengerjakan sesuatu bertahun-tahun, tetapi tidak jelas dampaknya apa. Harus ada dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang bisa diukur,” tutup Jessica.
Namun, keuntungan tersebut tidak lepas dari tantangan tersendiri. Program Director Kebun Kumara, Sarah Adipayanti, menyoroti tantangan masyarakat urban dalam memulai gaya hidup berkelanjutan. Menurutnya, hambatan terbesar bukan hanya soal kesadaran, tetapi juga keterbatasan akses dan ruang hidup yang mendukung praktik ramah lingkungan.
Melalui Kebun Kumara, pihaknya berupaya mendekatkan masyarakat kota dengan praktik hidup berkelanjutan melalui kebun pangan, pengelolaan sampah organik, hingga edukasi berbasis komunitas.
“Kami percaya sustainability harus dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika orang mulai menanam makanan sendiri, mengelola sampah, atau memahami dari mana sumber pangan berasal, di situ perubahan perilaku mulai terjadi,” ujar Sarah.
Pendekatan sustainability berbasis keseharian dapat diperkuat dalam lingkungan pendidikan, sebagaimana disampaikan Dosen UMN Asep Sutresna. Menurutnya, kampus berperan penting dalam membangun pola pikir keberlanjutan sejak dini. Lingkungan kampus dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus praktik nyata penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
Program Green Campus Connect merupakan inisiatif Katadata Green untuk memperluas literasi keberlanjutan di kalangan mahasiswa sekaligus mempertemukan generasi muda dengan ekosistem industri, keuangan, dan organisasi yang mendukung implementasi ESG di Indonesia.
Permata INSPIRE merupakan inisiatif Permata Bank dalam bentuk platform diskusi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari social entrepreneurs, pendidik dan akademisi, pemerintah, komunitas, dan NGO, dengan tujuan terciptanya kolaborasi untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi dan lingkungan di sekitar kita melalui solusi yang inklusif, berdampak, dan berkelanjutan.
Puncak rangkaian kegiatan Permata INSPIRE akan dilaksanakan pada paruh kedua 2026.