Katadata Green
Banner

Investor Asia Perkuat Aksi Iklim, AIGCC Catat Kenaikan Tiga Kali Lipat

ANTARA FOTO/Hasrul Said/wsj.
Avatar
Oleh Hanna Farah Vania 21 Mei 2026, 12.05

Investor institusi di Asia memperkuat komitmen iklim di tengah persepsi melemahnya agenda iklim secara global. Laporan terbaru Asia Investor Group on Climate Change atau AIGCC menunjukkan, investor di kawasan ini mulai lebih aktif mendorong kebijakan iklim yang jelas, konsisten, dan layak investasi.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan tahunan ketujuh AIGCC bertajuk State of Investor Climate Transition in Asia. Salah satu temuan utama laporan tersebut adalah meningkatnya keterlibatan investor dalam advokasi kebijakan iklim. Sebanyak 25 persen investor kini aktif mendorong kerangka kebijakan iklim yang lebih jelas dan layak investasi. Angka ini naik 18 poin persentase dibandingkan 2024.

Kenaikan lebih besar terjadi pada anggota AIGCC. Dalam dua tahun terakhir, keterlibatan mereka dalam advokasi kebijakan naik tiga kali lipat, dari 19 persen menjadi 58 persen.

Laporan ini menganalisis 240 investor besar yang aktif di Asia dengan total aset kelolaan mencapai US$123 triliun. Dari jumlah itu, 202 investor atau 84 persen berkantor pusat di Asia.

Para investor yang dianalisis memiliki median aset kelolaan sebesar US$110 miliar. AIGCC menyebut laporan ini menjadi salah satu gambaran paling komprehensif mengenai cara pelaku pasar modal di Asia mengelola risiko iklim dan isu alam yang semakin memengaruhi arah pembangunan ekonomi jangka panjang kawasan.

AIGCC menyebut masukan investor dalam proses konsultasi kebijakan mulai mendapat perhatian dari pemerintah dan regulator. Sejumlah pembuat kebijakan menilai keterlibatan AIGCC turut membantu membentuk arah kebijakan iklim di kawasan.

CEO AIGCC Rebecca Mikula-Wright mengatakan meningkatnya pemahaman investor terhadap risiko iklim telah mendorong ambisi dan implementasi yang lebih kuat.

“Kami melihat perubahan besar dalam keterlibatan kebijakan dan hal ini mulai membuahkan hasil,” kata Rebecca dalam keterangan tertulis, Senin (18/5).

Menurut dia, dialog antara investor, pembuat kebijakan, dan regulator menjadi kunci untuk merancang kerangka kebijakan yang dapat menarik investasi. Kerangka semacam ini dibutuhkan untuk membuka pendanaan dalam skala besar bagi agenda transisi energi dan ekonomi rendah karbon.

Investasi Solusi Iklim Meningkat

Laporan AIGCC juga menunjukkan kenaikan investasi pada solusi iklim dan pembiayaan transisi. Saat ini, 30 persen investor telah meningkatkan alokasi investasi pada dua area tersebut. Angkanya naik 11 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

Tren ini lebih kuat terlihat pada kelompok pemilik aset, seperti dana pensiun dan dana kekayaan negara. Sebanyak 35 persen pemilik aset meningkatkan investasi pada solusi iklim. Angka ini lebih tinggi dibandingkan manajer aset yang tercatat sebesar 26 persen.

AIGCC menilai tren tersebut menunjukkan bahwa agenda iklim masih menjadi perhatian investor. Semakin banyak investor Asia melihat transisi energi sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Rebecca mengatakan investor tetap meningkatkan alokasi pada energi terbarukan dan solusi rendah karbon meski risiko geopolitik dan konflik global masih berlanjut.

“Pemilik aset tidak hanya meningkatkan investasi terkait iklim, tetapi juga memberi sinyal pasar yang jelas mengenai arah transisi yang mereka tempuh,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan manfaat ekonomi yang semakin besar dari peralihan menuju energi bersih.

Pekerjaan Rumah Transisi Investor

AIGCC mencatat investor di Asia mulai memperkuat pengawasan terhadap perusahaan portofolio. Sebanyak 26 persen investor kini menggunakan dialog dengan perusahaan dan hak suara dalam rapat pemegang saham atau proxy voting untuk mendorong aksi iklim, naik 4 poin persentase dari tahun sebelumnya.

Namun, sejumlah pekerjaan rumah masih tersisa. Baru 30 persen investor yang memiliki kebijakan atau strategi terkait bahan bakar fosil dan sektor beremisi tinggi, angkanya hanya meningkat 3 poin persentase dibandingkan 2024.

AIGCC menilai kebijakan tersebut penting untuk menunjukkan keseriusan investor dalam mengelola transisi ekonomi riil. Kebijakan ini dapat mendorong perusahaan menyusun rencana transisi yang kredibel, menyelaraskan belanja modal dengan jalur rendah emisi, dan mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Rencana transisi iklim investor juga belum banyak berkembang. Baru 22 persen investor yang menerbitkan rencana transisi secara lebih rinci, sama seperti tahun sebelumnya. Sebagian besar investor masih belum menjelaskan implementasi rencana tersebut, mulai dari strategi portofolio, kebijakan investasi, hingga pengelolaan risiko fisik iklim.

Chief Investment Officer Kasikorn Asset Management Thidasiri Srisamith mengatakan risiko iklim merupakan risiko finansial sistemik. “Sebagai investor jangka panjang dengan fiduciary duty atau tanggung jawab pengelolaan dana untuk kepentingan penerima manfaat, pengelolaan risiko iklim merupakan bagian dari tanggung jawab tersebut,” ujarnya.

Editor : Hanna Farah Vania
;

Katadata Green merupakan platform yang mengintegrasikan berita, riset, data, forum diskusi, dan komunitas untuk menginformasikan, bertukar gagasan, hingga kolaborasi untuk pembangunan hijau dan berkelanjutan di Indonesia.